Logika Pembatasan Tinggi Bangunan

Ingin menjadi negara maju ? Bangunlah gedung yang megah dan tinggi. Ingin kota kota kita dianggap keren dan tidak kampungan ? Biarkanlah mall-mall menjamur, minimarket menggurita, pasar modern mengepung kota dan hotel-hotel berbintang & bertingkat berdiri kokoh si jalan-jalan protokol.
Itulah yang mulai saya rasakan dengan kota kecil dimana saya tinggal, Purwokerto. Kebanggaan mulai menyeruak. Kepala sudah mulai tegak kalau lewat di kota-kota tetangga. Bagaimana tidak? Paling tidak ada 3 jaringan hotel nasional yang sudah dibangun di Purwokerto dengan tinggi minimal 4 lantai. Bahkan ada yang 8 lantai.
Tapi, akhir-akhir ini bangunan tinggi megah seperti itu tidak semenarik dulu. Ini terjadi setelah saya melihat dokumenter mengenai pariwisata di Cancun, Meksiko. Cancun adalah pantai tujuan wisata yang sangat ramai. Sayangnya, hotel-hotel di sana seolah mengisolir para wisatawan di area hotelnya. Sementara area warga lokal sama sekali tidak menikmati remah-remah rizqi ramainya turis. Bagaimana tidak, hotel dikelola dengan manajemen kelas dunia berkonsep one stop shopping, one stop tourism, one stop service dan one stop-one stop lainnya. Mulai dari minimarket, gym, cafe dll ada di hotel semua.
Ya begitulah, ibarat sapi dan banteng bertarung lomba lari melawan kambing. Begitulah turisme hotel modern dibiarkan melawan pasar tradisional dan angkringan. Dan sepertinya seperti itulah tren pengelolaan wisata dan turisme di Indonesia. Bukan hanya itu, ekonomi-bisnis dan jurnalistik pun terancam fenomena serupa.
Diam-diam saya pun merindukan kota yang biasa-biasa saja. Gedung yang tidak terlalu tinggi namun setiap warga kota bisa berjualan dengan nyaman dan memaksimalkan potensinya sendiri. Kalaupun ada gedung yang tinggi, penghuninya nyaman dan tenang keluar masuk pasar tradisional dan berbaur di ruang publik yang natural dan kekeluargaan.

No comments:

Post a Comment